Januari 28, 2009

Ingar Bingar Band INDIE Bandung

Memimpin di depan, suara parau Ayu Ratna dengan lengkingan gitar dengan efek distorsi. Di belakangnya, pukulan drum Aries Budiman. Hilang satu di antara delapan lagu milik grup band Garasi, yang sekaligus menjadi original soundtrack film Garasi mengalir dalam tempo sedang.

Memimpin di depan, suara parau Ayu Ratna dengan lengkingan gitar dengan efek distorsi. Di belakangnya, pukulan drum Aries Budiman. Hilang satu di antara delapan lagu milik grup band Garasi, yang sekaligus menjadi original soundtrack film Garasi mengalir dalam tempo sedang.

Andy Ayunir, penata musik Garasi, menyebut genre musik band itu rock elektronik alternatif, aliran musik yang memadukan rock dengan instrumen elektronik. Ciri warna musik genre ini, efek distorsi gitarnya diperkaya alat-alat elektronik seperti synthesizer, sampler, atau sequencer.

Dari genre yang dibawakannya beranggotakan Fedi Nuril, Ayu Ratna, dan Aries Budiman, band ini mengingatkan pada ingar-bingar berbagai band indie yang lahir, terutama, di Bandung, Jawa Barat. Boleh dibilang, musik Garasi senapas dengan Burger Kill, Forgotten, Full of Hate, Jeruji, Jasad, Koil, Pas, dan Puppen.

Ingar-bingar band indie di Kota Kembang mulai membuncah sejak 1994. Adalah Reverse, sebuah studio musik di bilangan Sukasenang, yang ikut menyemaikan berbagai band itu. Band yang sempat dibesarkan Reverse, antara lain, Pas dan Puppen. Pada 1993, Pas menjadi band Indonesia pertama yang merilis album secara independen. Sementara Puppen, dibentuk pada 1992, bubar tahun 2002 adalah pionir hardcore lokal yang telah menelurkan tiga album.

Saat ini, ada puluhan label independen atau indie label di Bandung yang merekam pelbagai album band indie di kota itu: Spills Records, Harder, Riotic, Apocalypse Records, Distorsi, dan Fast Forwards Records. Yang disebut terakhir sempat merilis album grup Mocca, yang meledak di pasaran. Sekadar catatan, meski sama-sama bagian dari industri, yang membedakan indie label dengan major label adalah spirit kebebasannya. Juga semangat pertemanannya.

Untuk memasarkan albumnya, band-band muda itu menitipkan rekamannya berformat kaset atau cakram padat (CD) ke distro distribution order. Ini satu toko kecil yang juga menjual kaus oblong, celana panjang, tas, papan selancar, dan aneka aksesori buatan industri rumahan. Misalnya, Anonim, Airplane, Ouval, Riotic, dan 347.

Berbagai radio di Kota Kembang ikut menyemaikan band indie. Pada 1992, lewat tangan dingin Samuel Marudut (almarhum), lahirlah sebuah program di radio GMR: memutar demo rekaman pelbagai band baru asal Bandung dan sekitarnya. GMR juga ikut mempopulerkan keberadaan sejumlah band yang berasal dari luar Bandung.

Sementara itu, radio lain di Bandung, Ardan, OZ, dan Ninetyniners, mempunyai acara tangga lagu atau charts yang khusus menampung band indie. Band itu tinggal mengirim kaset atau CD demo album ke radio-radio tersebut. Stasiun radio itu kemudian menyeleksinya untuk ditempatkan dalam daftar peringkat.

Sepak terjang komunitas indie juga dieskpos cukup intens lewat majalah. Pelopornya Revograms Zine, yang terbit pada 1995. Ini fanzine (majalah fotokopian) musik pertama di Indonesia terbitan komunitas indie di Ujungberung, Bandung. Lalu muncul fanzine indie lain, seperti Swirl, Tigabelas, dan Membakar Batas. Setelah itu, terbit majalah Trolley dan Ripple pada 1996. Trolley tutup pada 2002, sementara Ripple berubah format dari majalah saku menjadi format majalah standar. Ripple bertiras sekitar 7.000 eksemplar dan kini tersebar di Bandung, Jakarta, Yogyakarta, Malang, dan kota-kota di luar Jawa.

Pelbagai acara musik underground di sejumlah tempat di Bandung juga menyuburkan band indie. Ada pentas musik underground yang kerap digelar di Gedung Olahraga Saparua, Festival Dago yang belakangan digelar di sepanjang Jalan Dago, Pasar Seni ITB, dan konser-konser musik di sejumlah SMA.

Yang jelas, Garasi dan band sejenisnya yang menjamur di Tanah Air belakangan ini memang bukan gerakan perlawanan atau semacam counter culture. Mereka hanyalah kaum muda yang ingin mengerjakan sesuatu seperti keinginannya dengan cara semampunya. Mereka mewakili gerakan kaum muda yang bersemboyan D.I.Y, singkatan Do It Yourself alias kerjakan sendiri.

1 komentar:

  1. munk akhir2 nee banyak bangett acara2 band2 underground iiank digelar di cimahi,kbetulan saya adlah salah satu penggemar underground
    taun ini juga baru saja digelar acara cimahi bergetar acaranya keren tapi sayyank banyak banget format acara iiank kacau

    saranya supaya terus di abadikan band2 indie n underground bandung teh,cz belakangan banyak terlupakan,lagian itu salah satu kreasi anak sni bandung iiank perlu dihargai juga
    n ingedh lurd musik underground gk kampunhan kox,,,,

    BalasHapus

kasih komen yang membangun ya...